in utero

Posted in insomnia, obsesi dengan kaitan (tags) , , , , on Oktober 1, 2009 by dusone

Cuaca hari ini terasa begitu menyengat. Meski sudah bertelanjang dada dan menggunakan kipas angin, tetapi tetap saja terasa panas. Bahkan aku sampai harus membuka jendela untuk sedikit mengurangi rasa panas ini. Tapi tetap saja tidak ada pengaruhnya. Tetap terasa panas.

Aku melanjutkan lagi menempelkan potongan-potongan gambar ke kanvas. Kolase ini belum selesai, masih setengah jadi. Ada beberapa gambar yang belum kutempelkan. Gambar bayi-bayi tanpa kepala, perisai, vagina, swastika, sepasang mata, gitar, sebungkus rokok, sebotol anggur dan sebatang korek api. Rencananya, kolase yang akan kuberi judul “in utero” ini akan kusertakan dalam pameran seni yang akan diadakan di Pendopo Kabupaten minggu depan.

Ketika aku masih asyik  menempelkan gambar-gambar itu, seorang laki-laki setengah baya datang menghampiriku. Kira-kira umurnya dua kali umurku. Meski sudah banyak uban di kepalanya, tetapi tubuhnya masih terlihat tegap.

“Nak, bagus sekali kolasemu itu”, ucapnya.

Terasa sekali bahwa laki-laki itu mencoba sedikit berbasa-basi untuk membuka percakapan denganku. Aku diam saja, meneruskan pekerjaanku tadi yang belum selesai.

“Maaf, kamu benar Jimbo, kan?”, tanya laki-laki itu padaku.
“Iya”, dengan terpaksa aku harus berhenti menempelkan gambar dan menjawab pertanyaannya.
“Memang kenapa? Bapak siapa?”, tanyaku kemudian.

Bapak itu diam sebentar, lalu menghela nafas.

“Aku…bapakmu”, jawabnya datar.

Dhuaarr!!! Serasa seperti disambar petir ketika aku mendengar jawabannya. Aku berhenti menempelkan gambar. Aku layangkan pandanganku ke arah bapak itu. Aku amati wajahnya. Aku merasa asing. Dan, aku merasa tidak mengenalnya.

“Kenapa nak?”.
“Tolong bapak jangan mengada-ada. Bapak saya sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Sejak kecil, saya hanya tinggal bersama ibu saya. Jadi, sekali lagi, tolong bapak jangan mengaku-aku sebagai bapak saya. Dan kalau pun ternyata bapak adalah benar-benar bapak saya, saya tetap tidak akan percaya begitu saja.”

Bapak itu terdiam. Masih memandangiku. Lalu memandang kolase setengah jadi.

“Umur 6 tahun, waktu kamu main layang-layang di sawah, pipimu terkena benang gelasan2) sehingga tergores dan berdarah. Dan luka itu masih membekas di pipimu”, bapak itu bercerita.
“Kemudian waktu kamu belajar naik sepeda, kamu berkali-kali terjatuh dari sepeda. Tapi itu tidak membuatmu kapok untuk belajar. Sampai pada suatu hari, kamu terjatuh dan  membentur batu sehingga membuat tulang tanganmu patah. Setelah itu kamu tidak mau lagi naik sepeda.”

Bapak itu masih bercerita tentang hal-hal lain, yang samar-samar masih membekas di dalam ingatanku.

“Masih belum percaya kalau aku bapakmu?”.
“Bapak bisa saja mengarang cerita dan secara kebetulan cerita itu sama dengan apa yang saya alami waktu kecil dulu.”
“Nak, lantas apa yang harus saya lakukan untuk membuatmu percaya?”.
“Bapak tidak perlu melakukan apa-apa.”

^^

Semua gambar sudah menempel di kanvas. Aku sedang memberi sedikit sentuhan akhir untuk membuat “in utero”  sempurna, ketika bapak itu datang lagi.

“Nak, ini foto bapak dan ibumu yang sedang menggendongmu. Waktu itu kamu masih 3 tahun.”, katanya sambil menyerahkan selembar foto hitam putih yang kelihatannya sudah tua sekali, padaku.

Aku melihat foto itu. Persis sama seperti foto yang dulu sering diperlihatkan ibu kepadaku, kalau aku merengek menanyakan tentang bapak. Yang aku ingat, waktu ibu menunjukkan foto dan bercerita tentang bapak, ibu terlihat bangga dan bahagia. Itu saja.

“Trus, kemana saja bapak selama ini? Ketika ibu harus membanting tulang, bersusah payah untuk melunasi utang-utang bapak pada rentenir? Ketika ibu harus bekerja keras untuk mencari makan dan menyekolahkan saya?”, kataku sedikit keras.
“Apa itu yang dinamakan dengan seorang bapak?”, kataku lagi, agak emosi.

Bapak itu terdiam. Menunduk. Lalu memandang “in utero”.

“Sudahlah. Saya sudah biasa dengan keadaan saya. Sejak kecil saya sudah merasa tidak mempunyai bapak. Bapak saya sudah mati.”

Kembali, bapak itu hanya terdiam. Kulihat bibirnya sedikit bergetar, mungkin akan bicara. Sebelum sempat bapak itu bicara, segera kusudahi saja perbincangan ini.

“Maaf pak, saya masih belum bisa menerima bapak sebagai bapak saya.”

^^

Pameran seni di Pendopo sukses besar. Dalam lelang yang di adakan waktu pameran tadi, “in utero” laku terjual 250 juta. Pembelinya seseorang dari luar kota, yang pada waktu pelelangan tidak datang dan diwakili oleh orang suruhannya. Jadi aku tidak bisa bertemu secara langsung dengan kolektor “in utero”.

^^

Jarum jam berdentang 12 kali. Sudah tengah malam. Aku masih juga tidak bisa tidur. Berbagai pikiran berkecamuk di dalam otakku.

Dulu, aku pamit pergi ke kota dengan tujuan untuk mencari penghidupan yang lebih layak, dan suatu janji kelak jika aku sudah berhasil aku akan pulang dan membawa kembali anak dan istriku untuk menikmati keberhasilan yang kuperoleh. Tapi, ternyata  kenikmatan yang ditawarkan oleh kesuksesan itu telah membuatku lupa akan segalanya. Aku melupakan istriku. Aku melupakan anakku. Bahkan aku melupakan agamaku. Sampai suatu ketika datang seseorang yang mengingatkan aku kembali pada anak dan istriku.

Dan disaat rasa penyesalanku ini datang menghampiri, semua sudah terlambat. Sangat terlambat. Istriku sudah meninggal. Anakku tidak mau menerima aku sebagai bapaknya. Dan aku sendirian. Dan aku sendirian. Hanya ditemani “in utero”, kolase yang kubeli pada lelang kemarin.

–d r o p–

1) “In Utero”, judul salah satu album Nirvana.
2) Benang tajam yang biasa digunakan untuk saling beradu layang-layang.

sepotong cerita pendek tentang kartu pos

Posted in insomnia dengan kaitan (tags) , on Januari 29, 2009 by dusone

perempuan itu selalu mengirimkan sebuah kartu pos bergambar semangka melalui kantor pos setiap hari, kepada seseorang yang sangat ia benci, dirinya sendiri!

ti3a

Posted in insomnia dengan kaitan (tags) , on Januari 29, 2009 by dusone

Hannibal masih asyik mengutak-atik komputernya. Sudah seminggu ini dia meng-hack website sebuah perusahaan operator telepon seluler terbesar di negara ini. Sebagai hacker yang sudah cukup lama malang melintang di dunia bawah tanah, pekerjaan ini sebenarnya bukanlah pekerjaan yang sulit. Tapi tidak tahu kenapa, mungkin karena perusahaan itu sudah memperkerjakan seorang hacker untuk memproteksi website mereka. Seperti yang Hannibal tahu, sekarang ini banyak perusahaan-perusahaan besar yang menghire seorang hacker untuk menjaga keamanan website juga data-data perusahaan mereka.

Beberapa waktu yang lalu, ia sukses membobol website sebuah departemen pemerintah hanya dalam waktu kurang dari 24 jam dan tidak terlacak. Setelah sukses mengacak-acak, ia lalu meninggalkan sebuah tulisan berupa pesan moral yang ditujukan kepada penguasa negeri ini.

Biasanya Hannibal meng-hack sebuah website hanya untuk bersenang-senang saja. Tapi kali ini berbeda. Setelah berdiskusi dengan teman-temannya, ia bermaksud untuk meminta uang tebusan dari perusahaan pemilik website yang berhasil ia bobol datanya.

Setelah beberapa kali gagal mencoba, pada usahanya yang ke 5 ini dia berhasil menyadap data dan rencana-rencana perusahaan itu untuk 5 tahun ke depan. Data-data yang telah berhasil diperoleh tersebut kemudian didownload lalu disimpan di emailnya dan di 2 buah CD.

CD pertama ia sembunyikan di dalam pigura foto kekasihnya, Izabel. Sedangkan CD kedua, rencananya akan ia serahkan nanti ketika deal transaksi dengan perusahaan tersebut sudah mencapai kesepakatan. Ia berencana untuk minta tebusan sebesar 100 juta. Dan rencananya pula CD ini nanti akan ia serahkan di depan Disc Tarra Plaza Simpang Lima besok malam jam 9 tepat.

***

Izabel dan Gazal duduk berdua di apartemen Izabel. Dengan ditemani sebotol Jack Daniels dan alunan suara Frank Sinatra di latar belakang. Pada mulanya mereka hanya membahas rencana-rencana yang akan mereka lakukan. Juga rencana Hannibal untuk bertransaksi dengan sebuah perusahaan yang telah berhasil ia bobol websitenya.

Sebenarnya Izabel tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan Hannibal. Ia khawatir akan terjadi apa-apa dengan kekasihnya itu, karena ini adalah pertama kalinya Hannibal bermain sendiri. Biasanya setiap kali transaksi, mereka selalu menggunakan kurir, jadi mereka tidak pernah terlibat secara langsung. Sedangkan kali ini, Hannibal memilih melakukannya seorang diri.

Tapi Gazal mendukung rencana Hannibal, karena uang yang akan diperoleh jumlahnya cukup besar jika transaksi ini sukses. Perdebatan antara Izabel dan Gazal pun berlangsung beberapa lama.

Entah siapa yang lebih dulu memulai. Mereka lalu saling menatap, kemudian saling berciuman, kemudian saling meraba, kemudian saling meremas. Kemudian tubuh mereka berdua menyatu. Menjadi satu. Seirama. Senada. Kemudian mereka melakukan gerakan-gerakan berirama. Ritmis. Seperti sepasang balerina yang sedang menari. Hingga akhirnya adegan diakhiri dengan teriakan kecil Izabel, ketika orgasme menyentuhnya.

Izabel bergegas pergi. Ia teringat untuk menemani Hannibal melakukan transaksi malam ini. Ia tak ingin membiarkan Hannibal melewatkan kesempatan besar itu tanpa ada yang menemani. Ia takut terjadi sesuatu dengan Hannibal.

Beberapa kali Izabel mencoba menghubungi ponsel Hannibal, tapi tak satupun berhasil connect. Ia tahu, mungkin Hannibal sudah mengganti nomornya. Seperti yang biasa mereka lakukan, setiap kali melakukan transaksi mereka akan selalu menggunakan nomor baru. Ini semua mereka lakukan dengan tujuan agar identitas mereka tetap tersembunyi dan sulit terlacak oleh pihak-pihak lain.

***

Lampu ini menyala begitu terang. Menyilaukan mata. Aku tak tahu aku berada dimana. Yang aku lihat hanya ruangan serba putih dengan lampu yang menyala menyilaukan mata. Dan ada selang infus di tanganku. Juga tabung oksigen.

“Dimana aku?”.
“Kamu di Rumah Sakit”, jawab seorang perempuan, yang ternyata adalah Izabel.
“Mana uangnya? Trus, kenapa aku bisa ada disini?”.
“Uang apa? Kamu kutemukan tergeletak pingsan di sebuah gudang yang sudah tidak terpakai di Pelabuhan, semalam”.
“Tubuhmu penuh luka dan memar-memar”.

Perlahan-lahan aku teringat. Setelah bertemu dengan orang dari perusahaan itu, kami lalu sepakat untuk bertransaksi di McD. Kemudian kami memesan minuman. Setelah kelar, aku terus diajak pergi. Kami naik mobil. Ternyata di dalam mobil, sudah menunggu 2 orang lagi. Dan setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.

Izabel kemudian bercerita. Ia menyusulku ke Disc Tarra, tapi tak menemuiku di sana. Setelah berkeliling mencari-cari, akhirnya ia melihatku naik mobil bersama seseorang. Ia kemudian mengikuti mobil itu. Mobil itu kemudian menuju ke daerah pelabuhan. Setelah menunggu beberapa lama, mobil itu keluar dari pelabuhan. Izabel kemudian masuk dan mencariku. Ia menemukanku di sebuah gudang, dalam keadaan pingsan dan tubuh penuh luka.

“CD itu pasti sudah dibawa mereka?”, tanyaku lagi.
“Mungkin. Aku tidak menemukan apa-apa lagi di sana.”.
“Sial! But, that’s ok. CD itu hanya berisi separuh saja dari semua data yang berhasil kuperoleh kemarin. Sisanya masih kusimpan”.
“Tapi, berjanjilah untuk lebih berhati-hati lagi”.
“Ya”.

***

Surat kabar pagi ini dihebohkan dengan berita tentang 3 orang pasien Rumah Sakit Jiwa kelas I di Semarang yang telah melarikan diri. Ketiga orang pasien tersebut sering mengidentifikasikan diri mereka sebagai Hannibal (seorang hacker dan ahli komputer), Izabel (seorang model dan artis) dan Gazal (seorang anggota Dinas Rahasia).

Ketiganya adalah tersangka yang terlibat dalam kasus penghinaan terhadap simbol-simbol negara dan dianggap membahayakan keselamatan negara. Dalam kasus tersebut, ketiganya dinyatakan terbukti bersalah dan secara meyakinkan telah melakukan kegiatan seperti yang telah dituduhkan.

Tapi dalam sidang lanjutan yang berlangsung cukup lama, sekitar 6 bulan, pengacara ketiga orang tersebut berhasil meyakinkan dan membuktikan pada pengadilan bahwa ketiga orang tersebut “tidak layak secara mental” untuk melakukan semua kegiatan yang dituduhkan. Kemudian pengadilan mengambil keputusan, ketiganya dinyatakan “tidak waras” dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa untuk menjalani perawatan serta pemulihan mental sebelum kasus itu dilanjutkan kembali. Dan semuanya atas tanggungan negara.

**dead!**

sulang-rembang, 17o3o6 11:15.oo am
kalinyamatan-jepara, 17o3o6 1o:56.oo pm +

10 cerita pendek yang pendek

Posted in insomnia dengan kaitan (tags) , , on Januari 29, 2009 by dusone

Soliter
“ternyata, hidup sendiri pun menyenangkan!”

Mengadu Tuhan
“aku ingin bertemu denganNya. aku akan mengadu, kenapa aku selalu bermasalah dengan makhluk ciptaanNya yang bernama lakilaki!”, katamu

Menjadi Pusat Perhatian
“kenapa kau selalu saja diam?”, tanyaku. “aku tidak ingin terlihat, tidak ingin menjadi pusat perhatian”, katamu. “bahkan, dengan kesunyianmu itu, kau tetap menjadi pusat perhatian”’, sahutku

Di Taman
sepasang laki perempuan di pojok taman. berbungkus beritaberita di koran. lalu berucap,”persetan kau, tuhan”

Perempuan Sunyi
ia kesepian, ia sendirian. satusatunya teman yang ia punya, hanyalah sunyi

Anak Negeri
anakanak telanjang, bermain layanglayang. lalu menggambar dengan arang. dan berdendang,”bagimu negeri jiwa raga kami”

Menelepon Tuhan
di dekat radio transistor itu ada sebuah pesawat telepon. kata bapak, nanti suatu saat telepon itu akan digunakan untuk menelepon Tuhan. aku pernah bertanya padanya, kenapa tidak menelepon sekarang saja, tapi apa jawabnya? bapak bilang, bapak belum tahu bahasa apa yang nanti akan dipakai untuk bicara dengan Tuhan!

Aku Gila, Katanya!
perempuan itu menangis. lalu aku melihat diriku menangis. perempuan itu adalah aku?

Aku Tahu Aku Akan Mati Hari Ini
aku tahu aku akan mati hari ini, tapi tidak secepat ini. aku masih ingin bercinta lagi, aku masih ingin orgasme lagi

Kabar Kematian
esoknya kuterima kabar, tubuhmu ditemukan sudah menjadi mayat dibathtub hotel tempatmu mengasingkan diri. menurut dokter, kau mati karena terlalu banyak mengkonsumsi pil tidur dan wiski

‘d’

Posted in insomnia, obsesi dengan kaitan (tags) , , , , , , on Januari 12, 2009 by dusone

Aku dinamakan “d”, entah apa arti dan maksudnya, aku tak pernah tahu. Siapa orang tua kandungku, aku tak pernah tahu. Dari cerita orang-orang yang kudengar, aku adalah bayi yang ditemukan tergeletak di depan pintu pagar, rumah yang sekarang kutinggali, pada suatu subuh beberapa tahun yang lalu. Dan menurut mereka, aku mungkin adalah anak hasil dari hubungan gelap, yang tak pernah dikehendaki kelahirannya, dan akhirnya di buang begitu saja.

Siapa pun aku, siapa pun orang tua kandungku, bagaimana keadaan ketika aku dilahirkan, aku tak peduli. Dan sekali lagi, aku tak pernah peduli itu.

^^

Ini adalah malam ke seratus, sejak aku menjelajahi ribuan situs untuk memuaskan kesenanganku, menghabiskan waktu. Pusing-pening mulai datang. Migraine. Kepala serasa mau meledak, dan aku menyesal tidak memasang scanner di kepalaku agar aku bisa tahu berapa banyak virus dan cacing yang berdiam dan tinggal di otakku. Dan berpesta pora di sana sehingga membuat otakku menjadi semakin bebal jika digunakan untuk memikirkan sesuatu.

Di layar, masih terpampang gambar Adolf Hitler menghisap cerutu sambil memandangi ribuan mayat bergelimpangan di ujung sepatu hitamnya. Aku demikian tergila-gila dengannya. Entah apa yang menyebabkannya, aku sendiri tak pernah tahu. Aku sering berpose sepertinya, dengan posisi tangan melambai, aku bisa merasakan ekstase yang luar biasa melebihi apa yang pernah kurasakan ketika pertama kali melakukan masturbasi pada saat aku masih kelas 5 SD. Ah,…

Aku mengantuk, tapi mata ini tetap tak mau terpejam. Kupaksa untuk memejamkan mata, tetap tak bisa. Aku terbaring di ranjang, dan menatap dinding kamar yang penuh dengan poster orang-orang yang begitu aku agungkan (Ozzy, Hitler dan Jim Morrison), dan membuatku selalu ingin menjadi seperti mereka. Abadi.

Jantung sudah berhenti berdetak, bahkan paru-paruku pun sudah lama tak berfungsi lagi, sejak Marlboro mengirimkan ribuan miligram nicotine ke sana. Sering aku terbatuk dan mengeluarkan dahak bercampur darah yang berwarna hitam, tapi kebiasaan ini tak bisa kutinggalkan. Sama seperti ketika aku tidak bisa meninggalkan kebiasaanku yang lain, memotret bugil perempuan-perempuan yang mau di bayar hanya dengan sebutir ectasy (dengan kamera hitam putih favoritku), minum kopi pahit dengan iringan musik rock (dengan volume kencang), juga masturbasi sambil menonton film-film porno bajakan yang kubeli dengan harga 15 ribuan perkeping.

Di sudut, masih mengalun sayup-sayup suara Ozzy membawakan “Dreamer” dari tape deck butut, yang kubeli dari pasar loak setahun yang lalu. Kadang aku mengandaikan diriku sebagai “aku” seperti yang terdapat dalam lirik lagu tersebut, dan aku merasa benar-benar ada di dalam lagu itu. Ya, sepertinya aku adalah seorang pemimpi.

“Aku bermimpi Friedrich Nietzsche membisikiku bahwa semua laki-laki itu jahat!”, kata Frances Bean padaku.
“Aku tidak melihat ada keindahan sedikit pun pada tubuh seorang laki-laki. Tak ada yang menarik!”

Aku hanya terdiam mendengarnya bicara, aku masih sibuk mengedit dan memanipulasi foto-foto bugil dari perempuan yang baru saja kupotret tadi pagi.

“Laki-laki adalah binatang. Mereka sering memperlakukan perempuan hanya sebagai obyek saja, setelah keinginannya terlampiaskan, dengan mudah dia akan mencampakkan begitu saja seperti sampah yang tak berguna”.

Bean masih terus berkata-kata, menyumpah serapahi laki-laki. Aku tak dapat mengingat semua kata-katanya, karena aku tak pernah memikirkannya. Itu adalah masalahnya, dan aku tak ingin terlibat dengan masalah itu.

“Aku benci semua laki-laki, termasuk semua laki-laki yang pernah meniduri aku”, lanjutnya lagi.
“Berarti kamu benci padaku, karena aku pernah tidur denganmu?”, sahutku kemudian, sambil tersenyum kecil.

Bean terdiam. Aku terdiam. Dan kami berdua terdiam, tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Bean berbaring di ranjang, melamun, dan aku melanjutkan kegiatanku tadi yang sempat terhenti.

Sementara itu, detak jarum jam di dinding kamar sibuk mengabadikan kebekuan ini.

Aku mencoba mengaduk-aduk memori otakku yang kurasa sudah penuh dan semakin lambat saja memikirkan sesuatu. Mencoba mengingat-ingat kembali apa yang pernah kulakukan dan alami ketika aku kecil dulu.

Aku ingat sering menonton film-film monocolor, hitam putih. Aku ingat sering menonton Janur Kuning, Pengkhianatan G30S/PKI, film-film dokumenter tentang keadaan negeri ini di masa perang kemerdekaan, juga film-film bisu Charlie Chaplin. Mungkin inilah yang membuatku membenci warna-warna selain hitam dan putih. Dan mungkin ini jugalah yang membuat mimpi-mimpiku selalu hitam putih, tak pernah berwarna. Tapi, aku tak pernah ingat sejak kapan aku mengalami hal ini.

Aku ingat ketika aku sedang mengintip seorang perempuan yang sedang mandi di kamar mandi berdinding dari bambu, di belakang rumah. Aku sangat menikmati saat-saat itu. Dan sejak saat itulah aku mulai senang melihat tubuh telanjang perempuan, tak peduli berapa pun usia mereka.

Tumpukan album yang berisi foto-foto hitam putih masa kecilku masih tergeletak di sudut (di bawah gantungan baju dan celana yang entah sudah berapa hari tak pernah di cuci), berdebu, bahkan ada beberapa bagian dari foto-foto itu yang lengket, berjamur dan mengelupas rusak. Kubolak-balik halaman demi halaman album itu sambil mencoba mengingat-ingat kembali kenangan-kenangan yang ada di balik foto-foto itu. Ingatanku melayang jauh, menembus waktu, kembali ke masa-masa silam dulu.

Tapi, aku tak dapat mengingat apa pun. Memoriku sudah usang dan mungkin sudah terlalu berat untuk bekerja lagi. Aku menyerah!

“Where did you sleep last night?”, kataku pada Bean, beberapa saat setelah dia masuk ke kamar.
“Di mana-mana”, jawabnya sekenanya.
“Kau percaya pada Tuhan? Takdir? Dan kau juga percaya pada aturan-aturan itu?”.
“Tidak! Dan aku juga tidak percaya pada semua aturan-aturan itu. Bagiku semua itu bohong, palsu, bahkan tak ada seorang pun yang bisa menunjukkan padaku dimana keberadaan Tuhan yang sebenarnya!”

Bean hanya terdiam mendengar jawaban dariku. Aku juga terdiam. Kami memang seringkali saling berdiam diri, menikmati kesendirian masing-masing tanpa pernah merasa saling mengganggu atau terganggu dengan keadaan ini. Hal ini lah yang membuat aku dekat dengannya, kami tak pernah berusaha untuk ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing.

Bean beranjak menuju sudut di mana tape bututku berada, dan menyetel “The End”nya The Doors dengan volume kencang. Aku hanya meliriknya sekilas, dan tak peduli apa pun yang dilakukannya.

^^

Aku adalah seorang Hitler yang sangat bangga dan merasa bahwa bangsaku adalah yang terbesar dan paling agung dibanding bangsa-bangsa lain di seluruh muka bumi ini. Aku belum mati (jika kau anggap aku sudah mati, kau salah besar!), karena tak ada yang bisa membunuhku. Tak ingatkah kau, aku tidur denganmu semalam!

Aku adalah “C” yang menembak mati Lennon. Jika kalian bertanya kenapa aku membunuhnya, aku akan menjawabnya,”Aku membunuhnya karena aku membenci lirik-lirik lagunya, aku membunuhnya karena Lennon lebih terkenal daripada Ozzy”. (Kenapa orang-orang selalu saja menganggap Lennon lebih besar dari Ozzy?).

Aku juga adalah kecoak raksasa yang tak dikehendaki hidup oleh keluargaku, dan oleh karenanya aku disingkirkan untuk dibunuh secara perlahan-lahan, dengan arsenik yang diberikan sedikit demi sedikit melalui makanan yang disuguhkan padaku tiap hari.

Aku dinamakan “d”. Aku tidak lebih berarti daripada huruf-huruf lainnya. Dan sekali lagi, aku tidak pernah peduli itu.[]

Semarang, 22o3o5 o9:4o.oo am 2oo5

aku [sudah] mati, dan aku telah membunuhnya

Posted in insomnia dengan kaitan (tags) , , , , on Januari 12, 2009 by dusone

Dulu aku sama bodohnya dengan orang-orang lain itu yang berpikir bahwa sekolah bisa membuatku lebih baik. Mengembangkan diri, membuka pikiranku tentang berbagai hal, serta menambah kemampuan otakku.

Tapi apa yang terjadi ternyata sungguh-sungguh meleset jauh dari pikiranku sebelumnya.

Pikiranku menjadi tumpul, mampet, buntu. Otak tidak bisa lagi secara bebas berkreasi dan berimajinasi. Semua itu karena adanya batasan “serba benar” atau “serba salah” yang melulu menurut pendapat para guru.

Sungguh ironis. Tragis. Lonceng kematian dunia pendidikan sudah dibunyikan. Bukankah seharusnya guru itu membimbing dan memfasilitasi agar anak didiknya dapat berkembang kemampuan berpikirnya dan kritis atas segala sesuatu yang terjadi disekitarnya?

Pada kenyataannya, guru bahkan menjadi sesosok makhluk berkuasa yang membatasi dan membunuh kreatifitas anak didiknya!

“Tidak semua guru demikian!”, teriak mereka.

Memang tidak semua. Tapi, berapa persen jumlah mereka yang tidak? Mungkin kurang dari 30 %.

Kelas 2 SMP aku keluar. Kuputuskan untuk tidak sekolah lagi. Ingin membebaskan pikiran dan imajinasiku dengan membaca, menulis, melukis atau memainkan musik. Atau melakukan aktifitas lain yang sesuai dengan kehendakku.

Lalu aku pergi dari rumah. Jujur, aku sudah tidak percaya lagi pada ketulusan kasih sayang dari orang tua. Penuh pamrih. Memberi perhatian dan kasih sayang hanya karena berharap kelak akan mendapatkan balasan ketika anaknya sudah dewasa.

Aku merasa, tak ada beda antara yang dilakukan oleh orang tua dengan para guru. Sama persis. Serupa.

Di jalan[an], aku melihat banyak hal. Yang paling sering kutemui adalah adanya “kekuasaan untuk memaksakan kehendak”. Di sekolah oleh para guru, di rumah oleh orang tua, dan di luar rumah oleh negara melalui  aparat-aparatnya.

Semakin membuatku tidak percaya lagi pada yang namanya institusi sekolah, keluarga, bahkan negara.

Sudah berapa puluh tahun negara ini merdeka? Tapi, tak ada kemerdekaan disini. Masih terpenjara. Di belenggu.

Apakah aku manusia merdeka? Bahkan aku pun tidak bisa lagi memiliki tubuhku sendiri.

Ketika aku memilih untuk tidak memakai pakaian, telanjang, mereka akan dengan serta merta meneror dan meneriakiku dengan mengatakan aku telah melakukan pornoaksi.

Apakah ini merdeka? Tidak! Ketika individu tidak lagi berkuasa penuh atas kebebasan individualitasnya!

“Manusia adalah makhluk sosial”, teriak mereka.

“Tapi, pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk merasa senang jika orang lain tidak beruntung atau tidak berbahagia. Bukankah itu sama artinya dengan manusia adalah makhluk egois. Mementingkan dirinya sendiri. Individualis!”.

“Manusia hidup berkelompok”, teriak mereka, lagi.

“Dan, individu sejati itu tidak berkelompok.1] Manusia berkelompok karena mereka merasa tidak mampu lagi menyelesaikan masalahnya seorang diri. Dengan berkelompok, mereka telah menghilangkan eksistensinya sendiri”.

Dari beberapa buku yang kubaca, aku melihat ada cara untuk memerdekakan diri dari segala hal, setidaknya di dunia, yaitu MATI!

Satu per satu butiran pil dari botol yang tadi kubeli, kutelan. Sengaja, aku ingin menikmati saat-saat menjelang kebebasanku.

Mungkin ini jalanku untuk memerdekakan diri. Atau barangkali, Tuhan pun akan bersikap sama otoriternya dengan para guru, orang tua dan negara? Entah. Aku masih belum bertemu denganNya.

++dead++

Jepara, o1o9o6 o6:44.15 pm
RIP yudhie [1975-2oo6]

1] Kiergaard, “Individu sejati tidak berkelompok”

mimpi seorang insomniak

Posted in insomnia, obsesi dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , on Desember 30, 2008 by dusone

Kubuka “Misteri Soliter”nya Jostein Gaarder. Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini pun kulalui dengan membaca buku. Sejak beberapa bulan yang lalu, tepatnya kapan aku tidak tahu, aku selalu susah tidur. Aku hanya bisa memejamkan mataku selama dua sampai tiga jam saja setiap harinya. Jadi, aku menghabiskan malam-malamku dengan membaca.

Dilembar-lembar buku yang kubaca, ternyata tidak hanya terdapat deretan huruf-huruf yang terangkai menjadi kata. Tapi juga terdapat bayangan-bayangan yang seolah nyata. Yang entah tercipta karena begitu indahnya narasi sang pengarang atau hanya karena imajinasiku belaka. Aku tidak tahu. Seperti yang kualami, saat ini.

Aku melihat seorang laki-laki yang bercelana jeans dan kemeja flanel dengan t-shirt putih dilapisan dalamnya, berada ditengah-tengah lingkaran yang tersusun atas beberapa buah lilin yang menyala. Laki-laki itu kemudian memasukkan ujung laras pistolnya ke dalam mulutnya sendiri, dan menembakkannya dengan tangan kiri. Lalu tubuh laki-laki, yang ternyata kidal itu, tergeletak tepat ditengah-tengah lingkaran dengan kepala pecah dan tak bernyawa. Mati! Kemudian media memberitakan bahwa mayat laki-laki itu ditemukan setelah tiga hari meninggal.

Kubalik lembar halaman berikutnya. Dan adegan yang terdapat dilembar itu pun berubah. Berbeda.

Adam dan Hawa berlari berkejaran di sebuah taman. Eden. Firdaus. Mereka berdua telanjang. Tanpa busana. Hawa meminta kepada Adam untuk mengambilkan sebuah apel merah yang ada pada sebuah pohon di taman itu, untuknya. Adam lalu mengambil apel itu dan memberikannya kepada sang kekasih, Hawa. Mereka berdua menggigit dan memakan apel itu. Sebagian-sebagian.

Sepasang kekasih itu lalu berpelukan. Menjadi satu. Satu tubuh. Setubuh. Dan tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang mengamati disebalik dedaunan. Entah mata siapa. Setan atau …….

Aku melirik weker di meja, masih jam dua dini hari. Acara tv sudah tidak ada yang menarik lagi. Aku memilih channel yang menayangkan sebuah siaran langsung pertandingan sepak bola. Entah, siapa melawan siapa. Aku tidak begitu memperhatikan. Aku hanya berpikir, kenapa orang-orang itu begitu bodoh berlarian kesana kemari hanya untuk mengejar dan memperebutkan sebuah bola. Dan yang lebih aku herankan lagi, kenapa mereka tampak begitu menikmatinya. Siapa yang bodoh? Mereka atau aku? Atau para penontonnya?

Aku merindukan Niko. Sudah beberapa hari ini, dia tidak kelihatan. Menghilang. Atau mungkin bertapa, seperti kebiasaannya jika sedang mencari inspirasi untuk lukisan atau puisi-puisinya.

Niko benar-benar seorang artis. Seniman. Selain melukis, ia juga menulis puisi dan novel. Bahkan ia pernah pula bermain teater. Aku mengenalnya ketika masih di kampus dulu. Waktu itu aku melihatnya pada sebuah pementasan teater. Di pentas yang berjudul “Romeo and Juliet” itu, Niko berperan sebagai Juliet. Sungguh, aku begitu terpesona dengan aktingnya.

Sejak itu kami selalu kemana-mana berdua. Pada awalnya aku hanya merasa ia adalah seorang teman sekaligus sahabat yang baik. Dan aku merasa nyaman bersamanya. Tapi tanpa sadar, lama-kelamaan aku merasa ada sesuatu yang berbeda ketika aku bersamanya. Hingga akhirnya aku menyadari kalau aku mencintainya. Dan, kami adalah sepasang kekasih!

Mungkin bukan Niko sebenarnya yang kurindukan. Tapi yang tidak bisa kulupakan adalah sentuhan, belaian dan kecupan-kecupan Niko. Di seluruh tubuhku. Memikirkan Niko, tanpa sadar membuat tanganku bermain-main di sela-sela kedua pahaku. Sial! Kenapa aku begitu terobsesi dengannya?!

Sudah semakin akut saja insomnia ini. Kalau beberapa bulan lalu aku masih bisa tidur empat atau lima jam sehari, sekarang tidak. Saat-saat ini, aku hanya bisa tidur paling banyak hanya sekitar dua atau tiga jam saja sehari. Dan untuk menghabiskan malam, aku biasa melahap berbagai macam bacaan. Apa saja. Novel atau buku-buku filsafat. Bahkan stensilan.

Malam ini, aku baru saja menyelesaikan sebuah bab dalam “Misteri Soliter” yang di beri judul “Pangeran Keriting”. Aku tidak begitu mengerti apa yang diceritakan Jostein di buku ini. Aku tidak begitu peduli apa isi buku ini. Juga buku-buku yang pernah atau sedang kubaca. Karena yang kulakukan adalah hanya membaca, membaca, dan membaca.

Aku melihat Adam dan Hawa. Mereka tampak terkejut, begitu tersadar dari apa yang telah mereka lakukan tadi. Adam hanya terdiam sambil memandang Hawa, sementara Hawa hanya menunduk. Adam berpikir, apa nanti yang akan dijadikan alasan jika Ia tahu?

Adegan Adam dan Hawa yang sedang termenung di taman tadi perlahan-lahan memudar. Berganti warna. Menjadi gambar dengan dua orang model yang berpose seperti Adam dan Hawa di taman Eden. Telanjang. Tanpa busana. Lalu, sekelompok orang berpakaian putih-putih dengan berbagai macam poster berisi tulisan yang menentang segala bentuk pornografi, melakukan demo yang mengecam pemuatan gambar itu di sebuah pameran.

Aku semakin tidak bisa memahami buku ini. Yang kulakukan hanya membaca, tanpa harus tahu apa isi buku yang sedang kubaca ini. Pokoknya membaca. Itu saja. Jadi aku tidak begitu heran ketika mataku masih terpaku pada deretan huruf-huruf di buku ini, tapi pikiranku melayang-layang jauh, entah kemana. Termasuk ketika aku ingat Niko.

Dimana kau sekarang, Nik? Aku merindukanmu. Dan juga belaianmu. Tanganku kembali bermain-main, kali ini di payudara yang menggantung di dadaku.

***

“What a wonderfull world”nya Louis Armstrong berbunyi. Nada panggil di ponselku berbunyi, segera kuangkat.

“Naomi! Kapan kamu akan ke kantor?”, tanya suara di seberang sana yang ternyata adalah Dhina, partnerku di LSM yang kami kelola bersama.

“Cepetan! Kita ada meeting dengan relasi! Kalau bukan pendiri LSM ini, sudah kupecat kau!”.

Gerutuan Dhina tentang kebiasaan telat bangunku sudah tak terdengar lagi. Seperti biasa, aku telat lagi. Kulirik weker di meja, sudah jam sembilan kurang limabelas menit. Gawat! Sudah telat limabelas menit dari jadwal meeting hari ini.

Tanpa sempat mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi, serta menyemprotkan deodoran seperlunya ke tubuhku, aku berangkat. Sambil tak lupa membawa sebungkus Marlboro, kesukaanku.

Rembang, o7o42oo6 8:58.5o am

malam

Posted in insomnia, obsesi dengan kaitan (tags) , on Desember 30, 2008 by dusone

Malam. Entah kenapa aku begitu mencintainya. Bahkan aku pun tak tahu, sejak kapan perasaan itu mulai ada.

Aku selalu menantikan kehadirannya dengan perasaan senang. Seperti seorang kekasih yang sedang menunggu kedatangan pujaan hatinya. Dan bila malam sudah hadir, kulayani ia layaknya seorang hamba yang sedang melayani rajanya. Aku begitu memujanya. Aku senang melakukannya, karena memang aku senang melakukannya. Aku tak ingin ia kecewa, lantas tak akan pernah datang lagi padaku. Dan bila itu terjadi, (mungkin) aku akan patah hati.

Ada perasaan senang yang tak terkirakan, ketika malam datang dan menyapa. Tapi, kadang perasaan cemas juga menyelinap dihati. Ketika malam datang terlambat. Untuk itu, setiap kali ia datang, aku mencoba untuk melakukan segala hal yang menurutku dapat membuatnya merasa puas dan betah berlama-lama disini. Tidak cepat pulang. Aku takut, jika ia pulang, ia tak akan pernah lagi mau kembali ke sini. Menemuiku. Bahkan, tak jarang pula aku memaksanya untuk tetap tinggal disini. Tapi, ia tak pernah mau.

“Tinggallah lebih lama disini”, pintaku.
“Maaf, tidak bisa. Aku harus mengunjungi kekasihku yang lain”, begitu selalu jawabnya.

Aku mencintainya. Sangat! Melebihi apapun. Bahkan aku pun rela meski harus di duakan olehnya. Tidak ada rasa sakit hati. Meski kuakui, kadang terbit juga rasa cemburu. Tapi, aku terlalu mencintainya.

Ketika malam datang, aku tak perlu lagi sembunyi dari bayang-bayang hitam yang selalu mengekor kemanapun aku pergi. Aku tak pernah merasa takut lagi. Aku menjadi “aku” yang berbeda dengan “aku” ketika ia belum datang. Ketika malam datang, aku akan menghabiskan seluruh waktuku hanya untuk berdua dengannya. Menulis puisi atau melukis.

Ia paling suka dengan lukisan. Ia sering mengomentari lukisan-lukisan yang kubuat, melontarkan kritik, juga memberi ide-ide untuk lukisanku.

“Bagaimana kabar lukisanmu? Aku tidak melihat apapun di kanvas itu?”.
“Aku bingung harus menggambar apa. Terlalu banyak peristiwa yang terjadi, disini”.
“Kamu kan bisa memilih satu diantara beberapa peristiwa yang terjadi itu. Tidak harus semua”.
“Tapi, aku merasa bertanggung jawab untuk mengabarkan seluruh peristiwa yang terjadi di sini, agar orang-orang tidak melupakannya”.

Malam juga sering berkeluh kesah padaku, tentang tanggapan yang berbeda-beda dari orang-orang yang ditemuinya.

“Tidak semua orang mencintaiku seperti dirimu. Ada juga yang membenciku”, keluhnya.
“Siapa?”

Ia lalu bercerita.

“Suatu hari, aku bertemu dengan seorang bapak. Tapi dia malah mencaci maki aku. Katanya, kenapa aku terlalu cepat datang padahal dia belum mengumpulkan cukup uang untuk biaya berobat anaknya”.
“Apa salahku? Aku hanya menjalankan tugas yang diberikan padaku. Itu saja”, keluhnya.
Aku hanya terdiam mendengar ceeritanya.
“Dihari yang lain, aku datangi seorang pemuda. Semula dia menyambutku dengan penuh senyum, tapi beberapa saat kemudian dia menyuruhku segera pergi. Karena jika aku segera menghilang, dia akan dapat segera bertemu dengan kekasihnya di sekolah”.
“Aku jadi bingung, apa sebenarnya yang diinginkan orang-orang itu dari diriku”, keluhnya lagi.

Kadang kami (juga) hanya berbincang dan bercerita tentang banyak hal, sampai tiba waktu ia harus pergi. Melepasnya pergi merupakan satu hal yang berat bagiku. Aku merasa ada suatu bagian dari diriku yang hilang.

^^

Hari ini aku ingin merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Aku ingin mengajak malam, menghabiskan waktu berdua dengannya, dengan cara yang berbeda dari yang biasa kami lakukan.

Aku menunggunya. Masih menunggunya. Ia sudah terlambat sekitar 30 menit dari waktu biasanya ia datang. Tapi aku masih tetap menunggunya. Tetap menunggu. Dalam diam dan membeku.

Lewat 45 menit, belum tampak tanda-tanda ia akan datang. Sempat juga datang perasaan ragu dan bertanya-tanya, jangan-jangan ia tak akan datang hari ini. Tapi segera kutepis pikiran itu. Aku percaya padanya. Selalu percaya.

Aku masih tetap menunggu. Kemarin ia berjanji akan datang, karena (katanya) ia juga ingin merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Sudah hampir 1 jam berlalu. Ia belum datang. Aku masih menunggu.

Nah, itu ia datang. Hanya seulas senyum dan kata maaf yang sempat terucap darinya.
Kami berdua lalu pergi ke taman di pusat kota. Disana kami menyaksikan banyak hal, yang benar-benar berbeda dengan yang selama ini kami lakukan.

Di kolam di tengah taman, kulihat bulan seperti sedang bercermin. Bulat penuh. Ini malam bulan purnama. Di seberang kolam, anak-anak kecil berlarian, berkejaran dan bermain-main. Mereka tertawa-tawa. Aku jadi ingat dengan saudaraku yang berada jauh disana. Apakah anak-anaknya juga seperti mereka? (Kata saudaraku, anak-anaknya terkena busung lapar dan rumah mereka porak poranda tersapu gelombang pasang, beberapa bulan lalu).

Di bawah pohon Akasia, kulihat sepasang kekasih berpelukan dan berciuman. saling bertukar lidah, dan ludah. Sementara beberapa meter dari mereka, seorang gelandangan tertidur berbantal sebelah lengan, beralaskan selembar koran.

Kami lalu berjalan menuju pusat kota. Sampai di sebuah pub dan bar paling terkenal di kota ini, kami masuk. Ternyata, malam disini tidaklah sama dengan malam yang kutemui setiap hari. Bahkan malam tidak bisa lagi mengenali dirinya sendiri. Benar-benar berbeda.

Kami berdua hanya duduk daja. Memperhatikan bagaimana cara orang-orang disitu dalam menyambut kehadiran malam.

Matanya merah! Bau alkohol menyeruak keluar dari mulutnya yang hitam.

“Mana perawanku?! Mana perawanku?!”, teriaknya.
Tak ada seorangpun yang memperhatikan. Tak ada yang peduli. Kemudian datang seorang waitress.
“Bukan! Bukan kamu perawanku! Kamu sudah gak perawan lagi! Bukannya kamu perempuan yang semalam tidur denganku?!”

Ia masih saja terus mengoceh. Meracau. Mengacau. Tentang apa saja. Kepada siapa saja. Sampai dua orang security datang memapahnya, kemudian melemparkannya keluar. Seperti sampah.

Di panggung, tiga orang penari striptease yang tadi masih mengenakan pakaian lengkap, sekarang tinggal mengenakan celana dalam saja. Bergoyang. Menari-nari. Memamerkan kemolekan tubuhnya di depan mata telanjang semua pengunjung, yang hampir semuanya mabuk. Merelakan payudaranya disentuh, diraba dan diremas oleh tangan-tangan itu. Ah, ini membuatku muak. (Atau aku adalah orang yang munafik? Karena tidak pernah mendapatkan kesempatan seperti itu!).

Dhor!!! Suara pistol terdengar memecah telinga. Dari teriakan orang-orang disitu, aku tahu ada sebutir peluru yang menembus kepala bartender. Keadaan menjadi riuh. Ramai. Kacau. Tapi beberapa saat kemudian, keadaan berangsur pulih seperti semula. Seolah tak terjadi apa-apa.
Malam merasa tidak betah. Ia ingin segera pulang. Ia ingin segera mengakhiri petualangannya, yang aku yakin, itu tadi hanya sebagian kecil saja dari semua hal yang terjadi ketika ia datang.

“Hanya kau yang mencintaiku sepenuh hati. Kau tidak seperti mereka”.

Aku hanya terdiam, mendengar kata-katanya.

“Mulai hari ini, aku hanya akan datang untukmu. Aku mau menjadi kekasihmu. Dan  aku akan tinggal bersamamu”.

Mendengar kata-katanya, aku sangat gembira. Karena malam mau menjadi kekasihku, dan akan tinggal bersamaku. Malam menjadi milikku. Bukan untuk yang lain.[]

Semarang, o3o6o5 11:o6.12 am
untuk “Malam” yang selalu menemani dan memberi inspirasi

mengatasi insomnia

Posted in insomnia dengan kaitan (tags) , , , , , , on Desember 27, 2008 by dusone

Tidur bagi manusia adalah hal yang sangat penting, karena tidur mengendalikan irama kehidupan kita sehari-hari. Jika kita kurang tidur atau mengalami gangguan dalam tidur, maka hari-hari kita akan menjadi lambat dan kurang bergairah. Sebaliknya tidur yang cukup dan berkualitas akan membantu kita memiliki energi dan gairah dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Setiap manusia menghabiskan seperempat sampai sepertiga dari kehidupannya untuk tidur. Menurut penelitian, hampir setiap manusia pernah mengalami masalah tidur. Satu dari tiga orang dilaporkan mengalami gangguan tidur dan satu dari sembilan orang memiliki masalah tidur yang cukup serius. Karena beberapa masalah tidur dapat diatasi oleh individu yang bersangkutan dan yang lain memerlukan bantuan dokter, maka diagnosis diri (self diagnosis) menjadi sangat penting.

Buku Applications in Self-Management (Brian T. Yates, 1986) memberikan daftar untuk mendiagnosis masalah tidur. Anda mungkin memiliki masalah tidur jika beberapa dari hal-hal berikut terjadi pada anda:

• Anda merasa lelah dan tertekan pada waktu pagi hari atau malam hari.
• Anda memiliki lingkaran gelap dan membengkak di sekitar mata anda.
• Anda jatuh tertidur di pesta atau setelah makan malam di rumah orang.
• Anda kurang aktif dan memiliki sedikit hubungan sosial.
• Anda merasa seperti kehilangan fokus perhatian yang membuat anda tidak dapat merespon rangsangan dari luar dan membuat anda sensitif terhadap hal lainnya.
• Anda sangat sensitif terhadap rangsangan internal seperti sakit perut (maag) atau kejang-kejang.
• Anda sering tidak dapat tidur, tidur tidak nyenyak ataupun bangun terlalu dini.
• Anda takut menghadapi malam hari karena anda susah tidur.
• Anda mudah tersinggung atas hal-hal yang tidak penting.
• Anda mengkonsumsi obat-obat tidur dalam beberapa bulan terakhir.
• Anda sering menggunakan rokok, alkohol atau obat-obatan untuk menenangkan diri dan membantu anda untuk tidur.
• Anda kecanduan obat-obatan, terutama yang mengandung zat penenang.

Jika ada salah satu dari sejumlah daftar tersebut terjadi pada anda, maka dapat dipastikan anda telah mengalami masalah dalam tidur. Beberapa masalah tidur antara lain: insomnia, narcolepsy, hypersomnia, dan apnea. Namun sebelum membahas lebih jauh mengenai masalah-masalah dalam tidur, ada baiknya kita memahami apa sebenarnya tidur itu.

Pembentukan Sel
Tidur adalah proses yang amat diperlukan oleh manusia untuk terjadinya pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel tubuh yang rusak (natural healing mechanism), memberi waktu organ tubuh untuk beristirahat maupun untuk menjaga keseimbangan metabolisma dan biokimiawi tubuh. Hal penting yang terjadi pada saat kita tidur adalah menurunnya frekuensi gelombang otak. Hal ini pernah kita bahas dalam edisi Mandiri sebelumnya mengenai bagaimana kita mengoptimalkan kekuatan pikiran bawah sadar. Untuk pembaca yang tertarik lebih lanjut mengenai hal ini dapat membaca buku SELF MANAGEMENT karangan Aribowo Prijosaksono dan Marlan Mardianto.
Jadi dengan memahami proses penurunan frekuensi gelombang otak, kita dapat melihat bahwa tidur memiliki beberapa tahapan, mulai dari kondisi relaksasi (gelombang alpha), tidur dengan mimpi (adanya REM – Rapid Eye Movement) atau dalam kondisi kreatif yaitu gelombang theta, dan tidur lelap tanpa mimpi pada frekuensi gelombang delta.
Jika kita dapat mengatur frekuensi gelombang otak kita sampai pada taraf gelombang delta, kita tidak memerlukan waktu tidur yang panjang, tetapi tidur yang berkualitas yaitu lelap tanpa mimpi. Jika kita sering berada dalam kondisi relaksasi, maka kita tidak memerlukan banyak tidur. Ketegangan dan stress membuat kita membutuhkan banyak tidur, namun justru dalam kondisi tersebut kita menjadi susah tidur. Teknik relaksasi atau bagaimana menurunkan frekuensi gelombang otak pernah dibahas dalam rubrik ini atau anda dapat membaca pada buku-buku self management karangan kami.

Berikut adalah sejumlah kekeliruan pandangan tentang tidur:
• Kita membutuhkan sedikitnya delapan jam tidur setiap malam.
• Setiap jumlah jam tidur yang terlewat harus digantikan agar kita dapat kembali ke kondisi normal.
• Obat tidur dapat membantu kita untuk tidur.
• Minum minuman beralkohol sebelum istirahat dapat membantu kita untuk tidur.
• Jika kita tidak bisa tidur, atau kita berbicara ataupun berjalan ketika tidur berarti kita memiliki masalah tidur yang cukup serius.
• Jika kita tidur, kita selalu bermimpi atau selalu tidur nyenyak.
• Jika kita susah tidur, tetap berbaring di tempat tidur sampai kita tertidur.
• Beberapa orang tidur tanpa bergerak sepanjang malam.
• Orang yang tidur siang adalah orang yang malas.
• Masalah tidur akan hilang dengan sendirinya jika kita mengabaikannya.
• Masalah tidur bukan masalah serius.

Berikut adalah penjelasan berbagai jenis masalah tidur. Masing-masing masalah ini berbeda cara penanganannya. Kadang-kadang beberapa masalah memerlukan campur tangan dokter ahli jiwa (psikiater).

Insomnia
Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Seringkali penderita terbangun lebih cepat dari yang diinginkannya dan tidak dapat kembali tidur. Ada tiga jenis gangguan insomnia, yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang mengalami satu dari ketiga jenis gangguan tidur ini. Dalam penelitian dilaporkan bahwa di Amerika Serikat sekitar 15 persen dari total populasi mengalami gangguan insomnia yang cukup serius.
Gangguan tidur insomnia merupakan gangguan yang belum serius jika anda alami kurang dari sepuluh hari. Untuk mengatasi gangguan ini kita dapat menggunakan teknik-teknik relaksasi dan pemrograman bawah sadar. Yang penting kita harus dapat menjaga keseimbangan frekuensi gelombang otak agar sesering mungkin berada dalam kondisi relaks dan meditatif sehingga ketika kita harus tidur kita tidak mengalami kesulitan untuk menurunkan gelombang otak ke frekuensi delta.

Narcolepsy
Narcolepsy adalah gangguan tidur yang diakibatkan oleh gangguan psikologis dan hanya bisa disembuhkan melalui bantuan pengobatan dari seorang dokter ahli jiwa. Penyakit ini berbeda dengan insomnia yang terjadi secara terus menerus. Justru penderita narcolepsy ini terkena serangan secara mendadak pada saat yang tidak tepat, seperti sedang memimpin rapat – biasanya terjadi serangan pada kondisi emosi yang tegang seperti: marah, takut atau jatuh cinta. Serangan narcolepsy dapat melumpuhkan seseorang dalam beberapa menit ketika dia masih sadar dan secara tiba-tiba membawanya ke alam mimpi.

Hypersomnia
Gangguan ini adalah kebalikan dari insomnia. Seringkali penderita dianggap memiliki gangguan jiwa atau malas. Para penderita hypersomnia membutuhkan waktu tidur yang sangat banyak dari ukuran normal. Meskipun penderita tidur melebihi ukuran normal, namun mereka selalu merasa letih dan lesu sepanjang hari. Namun gangguan ini tidaklah terlalu serius dan dapat diatasi sendiri oleh penderita dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen diri.

Apnea
Apnea merupakan salah satu gangguan tidur yang cukup serius. Lebih dari 5 juta penduduk Amerika Serikat mengalami gangguan ini. Faktor risiko terkena gangguan ini antara lain: kelebihan berat badan (overweight), usia paruh baya terutama pada wanita, atau usia lanjut (lansia) yang pernah mengalami ketergantungan obat. Apnea adalah penyakit yang disebut juga ”to fall asleep at the wheel” karena sering dialami ketika penderita sedang mengemudikan mobil. Apnea terjadi karena fluktuasi atau irama yang tidak teratur dari denyut jantung dan tekanan darah. Ketika terserang, penderita seketika merasa mengantuk dan jatuh tertidur. Penderita apnea mengalami kesulitan bernafas bahkan berhenti bernafas pada saat tidur ketika terserang gangguan ini (dalam bahasa Jawa disebut ”tindihan”). Fluktuasi denyut jantung dan tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan kematian seketika pada penderita.

Perilaku Menyimpang
Gangguan tidur lainnya seperti berbicara atau berjalan dalam keadaaan tidur, ataupun menggertakkan gigi merupakan gangguan tidur yang tidak berbahaya. Namun berbahaya jika berjalan dalam tidur menemui obyek yang berbahaya (benda tajam, api, dll) atau terjatuh. Gangguan berbicara dalam tidur hanya akan mengganggu teman sekamarnya. Sedangkan menggertak gigi dapat merusak email gigi. Penyakit menggertak gigi ini disebut dengan bruxism.
Dengan mengetahui dan memahami berbagai jenis gangguan atau penyakit tidur kita dapat mengambil langkah yang diperlukan. Sepanjang masih bisa diatasi sendiri dengan teknik-teknik manajemen diri (relaksasi dan pemrograman bawah sadar, meditasi, dan pola hidup yang sehat dan seimbang), maka kita sebenarnya dapat menjadi bagian dari solusi masalah yang kita hadapi. Untuk gangguan atau penyakit yang serius seperti narcolepsy maupun apnea, kita harus berkonsultasi dengan dokter ahli, karena mengabaikan gangguan tersebut dapat berakibat fatal (mematikan) bagi penderita.

[sumber: sinar harapan]

insomnia

Posted in insomnia dengan kaitan (tags) , , , on Desember 27, 2008 by dusone

Insomnia adalah gejala[1] kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun.

Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan. Salah satu terapi psikologis yang efektif menangani insomnia adalah terapi kognitif.[2] Dalam terapi tersebut, seorang pasien diajari untuk memperbaiki kebiasaan tidur dan menghilangkan asumsi yang kontra-produktif mengenai tidur.

Banyak penderita insomnia tergantung pada obat tidur dan zat penenang lainnya untuk bisa beristirahat. Semua obat sedatif memiliki potensi untuk menyebabkan ketergantungan psikologis berupa anggapan bahwa mereka tidak dapat tidur tanpa obat tersebut. [sumber:wikipedia]